Nasehat Ilahi

Selasa, 27 Oktober 2009

Kunjungi lapak buku saya ...

AlhamduliLlah ... Baru saja selesai lapak buku saya yang baru ...

Kunjungi yah .. di http://nun-agency.site90.net ..........

Syukran ..

Jumat, 23 Oktober 2009

Do'a

Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahiiim ...

Kami percaya takdir-Mu .. berikan kami yang terbaik.
Anugerahkan kepada kami kelezatan shabar dan tho'at ...

Amin ..

Minggu, 18 Oktober 2009

Merindukan Ka'ab (merindukan pribadi jujur)


Kisah itu terjadi pada bulan Rajab, tahun kesembilan sesudah hijrah. Musim panas yang terik dan kering melanda Madinah. Suhu gurun saat itu mencapai empat puluh derajat celsius lebih. Hampir setengah matang. Namun, seperti halnya musim panas yang lain, di saat-saat seperti itulah biasanya buah kurma masak. Dan Madinah sebagai kota perkebunan sedang menikmati limpahan manisnya panen kurma.

Tak ada hal yang paling menyenangkan bagi penduduk Madinah dalam suasana seperti itu kecuali berdiam diri di kota, sambil memetik buah kurma yang masak di bawah rimbunnya dedaunan kebun. Apalagi jika ditemani oleh sekendi air dingin yang sudah diembunkan pada malam sebelumnya. Tentu tak akan ada yang mau untuk menolaknya. Inilah saat dimana tak ada seorangpun yang mau untuk pergi melakukan perjalanan jauh.

Namun, di saat seperti itulah, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mengumandangkan panggilan jihad. Ghozwah Tabuk fi saa'atil 'usrah. "Perang Tabuk dalam waktu yang sulit", demikianlah para ahli sejarah menamakan panggilan jihad itu. Dinamakan sebagai waktu yang sulit karena sekurang-kurangnya disebabkan oleh tiga hal.

Yang pertama, saat itu cuaca sangat panas dan bertepatan dengan musim panen kurma. Penduduk Madinah yang sebagian besar adalah petani tentu akan lebih memilih untuk mengurusi pertaniannya terlebih dahulu.

Kedua, medan peperangan yang dituju sangat jauh. Berada di Tabuk, yang merupakan salah satu kota dekat Palestina. Untuk perjalanan perginya saja akan menghabiskan waktu satu bulan penuh. Belum ditambah waktu perjalanan pulang dan masa berperang. Sehingga diperkirakan peperangan ini akan memakan waktu dua bulan lebih.

Ketiga, musuh yang akan dihadapi adalah salah satu negara super power saat itu. Yaitu Romawi, yang terkenal memiliki prajurit dengan kekuatan prima dan persenjataan lengkap. Jumlah musuh yang akan dihadapipun luar biasa besar. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mendapat berita bahwa telah ada 40.000 orang prajurit Romawi yang berkumpul di kota Balqa' dan siap menyerang Madinah.

Disebabkan tiga alasan itulah, maka banyak kaum munafiqin yang enggan untuk berangkat mengikuti ghozwah Tabuk. Hanya sahabat-sahabat Nabi shallaLlahu alayhi wa sallam yang berhati ikhlash sajalah yang bersedia untuk menempuh perjalanan jauh dan sulit dalam ghozwah ini. Namun, ternyata ada tiga orang sahabat Nabi yang terkenal lurus keimanannya tetapi tidak ikut ghozwah Tabuk. Mereka bertiga terlalu sibuk mengurus kebun-kebunnya hingga tidak menyadari jika rombongan pasukan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sudah berangkat meninggalkan Madinah.

Diantara tiga orang sahabat Nabi yang tertinggal itu, tersebutlah nama Ka'ab ibn Malik radhiyyaLlahu 'anhu. Seorang sahabat yang selalu mengikuti hampir seluruh ghozwah (perang) bersama Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Seorang sahabat yang dikenal sebagai seorang yang berhati tulus dan beriman lurus. Beliau bukanlah termasuk kaum munafiqin yang saat itu mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad. Beliau pula bukan termasuk sahabat yang sudah tua usia dan tidak memiliki perbekalan perang yang cukup, yang memang diizinkan oleh Rasulullah untuk tidak ikut berjihad. Beliau radhiyaLlahu 'anhu mengetahui panggilan jihad dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dan sudah berniat untuk berangkat. Namun karena taswiif (menunda-nunda) dalam berangkat jihad, akhirnya beliau tertinggal dari rombongan pasukan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam.

Sekembalinya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dari ghozwah Tabuk, berbondong-bondonglah kaum munafiqin menemui Rasulullah sambil mengemukakan alasan-alasan (yang sesungguhnya dibuat-buat) ketidak ikutan mereka berperang. Ka'ab ibn Malik pun di anjurkan oleh kaum munafiqin untuk juga menemui Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dan mengemukakan alasan ketidak hadirannya di ghozwah ini.

Namun, berbeda dengan kaum munafiqin yang berdusta di hadapan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, Ka'ab ibn Malik malah mengakui kesalahannya dan tidak mau mengarang-ngarang alasan apapun. Padahal, sebagaimana diakuinya sendiri, beliau radhiyyaLlahu adalah u'thiya jadalan (seorang yang dikaruniai kemampuan untuk berargumentasi). Karena kejujurannya, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam lantas bersabda kepada Ka'ab ibn Malik, "amma hadza faqod shodaqo, faqum hatta yaqdhiyaLlahu fiik (adapun orang ini, maka ia telah berkata jujur, maka tunggulah hingga Allah ta'ala menjatuhkan putusan untukmu)."

Maka Ka'ab Ibn Malik pun dihukum "hajr (isolasi/dijauhi)" oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Hajr adalah hukuman dengan cara tidak mengajak berbicara dan bergaul kepada Ka'ab selama lima puluh hari. Bahkan, bukan hanya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam saja yang meng-hajr Ka'ab Ibn Malik namun juga seluruh kaum muslimin di Madinah, termasuk pula istri Ka'ab ibn Malik.

Demikianlah, saat Ka'ab ibn Malik menjalani hukuman hajr dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, ia merasa dunia sangat sempit dan jiwanya sesak. Hingga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat Ka'ab Ibn Malik dan dua orang temannya radhiyaLlahu 'anhum sebagaimana tertera dalam surat at-Taubah ayat 117-120. Adapun kisah lengkap mengenai Ka'ab ibn Malik ini bisa kita baca dalam Kitab Shohih Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Banyak hikmah sebenarnya yang terserak dari kisah "hajr" Ka'ab Ibn Malik radhiyaLlahu 'anhu. Salah satu hikmah berharga yang dapat kita ambil dari kisah ini, adalah keteguhan Ka'ab Ibn Malik untuk tetap berkata jujur. Padahal bila ia tidak berkata jujur, ia tidak akan dihukum hajr oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Padahal pula saat itu, ia adalah seorang yang mampu dan memiliki kesempatan untuk berdusta. Namun, ia tidak memilih itu. Ia memilih untuk tetap berkata jujur, meskipun dengan itu ia harus dihukum.

Ka'ab ibn Malik tentunya menyadari betul firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam surat al-Ahzab ayat 70 : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah perkataan yang benar". Ayat ini menjelaskan bahwa diantara ciri keimanan dan ketaqwaan seseorang adalah keteguhannya untuk berkata jujur.

Seorang yang beriman tidak akan berani untuk berdusta, karena ia menyakini bahwa setiap ucapannya pasti akan dicatat oleh para malaikat yang senantiasa menyertai.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Qaf ayat 16 – 18 : "Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir."

Karena itulah bagi seorang yang beriman seperti Ka'ab Ibn Malik tidak ada pilihan lain kecuali berkata jujur. Meskipun kejujuran itu pahit baginya. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, "Katakanlah yang benar, walaupun kebenaran itu pahit." (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shohih Ibnu Hibban).

Bahkan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam saat ditanya jihad apakah yang paling dicintai disisi Allah Ta'ala, beliau menjawab, "Kalimat kebenaran di hadapan pemimpin yang lalim." (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bayhaqy dalam kitab Sunan al-Kubra). Imam jair (pemimpin lalim/bengis) atau shulthon jair (penguasa lalim, dalam hadits riwayat Imam at-Thabrany) adalah penguasa yang akan menyiksa kita, bahkan memenggal kepala kita, jika kita mengucapkan kebenaran.

Jika kepada penguasa yang lalim saja Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam masih menyuruh kita untuk berkata jujur, maka mengapa kita tidak berani untuk berkata jujur pada hal-hal yang tidak membahayakan nyawa kita? Mengapa demikian banyak di antara kita yang berani berdusta hanya untuk menutupi harga dirinya? Atau, berdusta hanya untuk menyelamatkan kedudukan dan hartanya?

Kasus para jaksa yang tidak mau mengaku telah disuap (risywah) oleh makelar kasus BLBI, yang masih hangat diberitakan saat ini, menjadi sekedar contoh betapa dusta sudah menjadi keseharian sebagian dari kita. Belum lagi, kedustaan yang setiap hari dijajakan oleh para politikus untuk menutupi kegagalan kepemimpinan mereka.

Sungguh, di hari-hari terakhir ini, kita makin merindukan sosok seperti Ka'ab Ibn Malik radhiyyallahu 'anhu. Sosok yang rela dihukum daripada harus berdusta. Ataupun sosok seperti Imam Malik ibn Anas rahimahuLlahu yang tetap teguh berkata jujur tentang kebenaran al-Qur'an meskipun penguasa berfaham Mu'tazilah terus menyiksanya.

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua untuk tetap mempertahankan dan membudayakan kejujuran. Sebagaimana do'a kita setiap hari, ihdina shirothol mustaqim, shirotol ladzina an'amta 'alayhim ... tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang kau beri nikmat ... . Do'a yang telah dijawab oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam surat an-Nisaa ayat 68 – 69 : Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Semoga ...

Wallahu a'lam bis showwab

Renungan setelah sang makelar kasus menitikkan air mata, 14/07/08
Muhammad Setiawan

Jumat, 16 Oktober 2009

Berapa Harga Situs/Blog Anda ..?

Berapa Harga Situs/Blog Anda ..? Itu pertanyaan menarik. Semakin populer suatu situs, semakin berharga nilainya.

Sebagai contoh, Detik.com nilainya adalah Rp. 40.21 miliar. Itu karena situs ini peringat no 9 di Indonesia. Dan di seluruh dunia peringkatnya 470.

Bagaimana dengan nilai situs facebook.com ...? Lima milyar dollar ...!!! atau kalau dirupiahkan sekitar Lima puluh trilyun rupiah ...!! Woowww .. Luar biasa kan ...

Sekarang, bagaimana caranya kita mengetahui nilai situs dan blog? Anda bisa mengeceknya di situs http://bizinformation.org/id

Coba deh ..

Kalo blog saya ini nilainya baru 3rebu dolar ... Hehehe lumayan lah ...

Salam.

Abah dan Anak2nya

Rabu, 14 Oktober 2009

Berurusan dengan Dunia Jin (tulisan 1)




Hemmm.. Mudah-mudahan Anda tidak ngeri yah membaca tulisan ini. Jangan sampai selama membaca tulisan ini melihat ke belakang melulu. Kayak ada yang ngeliatin ... Hehehe ...

Melalui tulisan ini sebetulnya saya ingin mengungkapkan kepada kita semua bahwa jin itu adalah makhluk yang ada. Nyata. Berada bersama dengan kita. Mereka memang ghaib. Tapi, ghaibnya adalah ghaib yang relatif. Itu artinya, sewaktu-waktu ia bisa menampakkan diri atau memberikan isyarat kehadirannya bersama dengan kita.

Hal-hal yang ghaib relatif itu sebetulnya banyak. Saat saya sedang duduk di depan komputer sekarang ini misalnya, anak-anak dan istri saya juga jadi makhluk ghaib relatif. Artinya, mereka tidak bisa saya ketahui saat ini, karena ada tabir penghalang yang bernama dimensi ruang. Demikian juga halnya dengan "om" jin ini. Mereka hanya terhalang dengan kita saja saat ini.

Pengalaman pertama saya berurusan dengan dunia jin ini adalah ketika dulu saya kuliah di satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Kalau tidak salah, tahun kedua saya kuliah, ada peristiwa yang menghebohkan di kampus saya itu. Mahasiswa baru yang sedang ospek, hampir satu fakultas, kesurupan semua.

Waahh .. semua jadi repot. Pas waktu kejadian saya memang tidak ada di kampus. Tapi esok harinya, saat saya di kampus, ternyata fenomena kesurupan itu masih juga terjadi.

Beberapa mahasiswa yang sedang kuliah tiba-tiba berteriak-teriak dan bergelimpangan. Saya dan teman-teman yang aktif di musholla kampus akhirnya jadi "dukun" dadakan. Di minta untuk menyembuhkan yang kesurupan dengan membaca ayat-ayat al-Qur'an. Terus terang pengalaman pertama "mengobati" orang yang kesurupan ini menyeramkan juga.

Baru pertama kali saya melihat orang yang tiba-tiba berubah 180 derajat saat sedang kesurupan. Ada yang tiba-tiba berubah suaranya. Ada yang tiba-tiba mengamuk kesana kemari. Ada juga yang sedikit-sedikit pingsan ... (hehehe .. jangan ada yang nyeletuk yah .. "pingsan kok sedikit2..")

Pokoknya heboh deh ..

Namun, alhamduliLlah dengan kejadian kesurupan massal di kampus itu, musholla kampus jadi rame setiap kali sholat dzuhur dan ashar. Dekan juga jadi tidak segan-segan mengucurkan dana renovasi kampus. Hemmm.. dalam hati .. "syukran yah om Jin... dah pada ngingetin kita semua .."

Itu pengalaman pertama.

Setelah kejadian itu, seingat saya, berturut-turutlah saya berurusan dengan soal "per-jin-nan" ini. Di tahun yang sama berulang kali saya melihat orang kesurupan dan saya diminta untuk me-ruqyah-nya.

Ruqyah itu arti harfiahnya "mantra" (kata orang betawi : baca-bacaan). Tapi yang saya maksud disini ada ruqyah syar'iyyah. Yaitu, dzikir dan do'a dari al-Qur'an maupun sunnah untuk mengobati dan melindungi diri dari gangguan jin.

Pengalaman yang paling berkesan juga di tahun itu (kalo gak salah tahun 1999, agak heran juga kenapa di tahun itu banyak banget yang kesurupan) adalah pengalaman berhadapan dengan peserta sanlat yang sedang kesurupan.

Ceritanya, dulu saya sering mengisi kegiatan training atau sanlat anak-anak remaja. Nah, suatu ketika saat saya sedang asyik ngisi materi tiba-tiba masuk satu orang peserta sambil mendobrak pintu. Dia tendang meja kursi. Dan sudah hampir memukul saya. Untung saya bisa ngeles ... (hehehe .. ngeles doang bisanya). Saat itulah masuk teman-teman yang bertugas menjaga keamanan sanlat dan langsung memegang tangannya. Herannya, anak yang sedang kesurupan ini walaupun sudah dipegangin lima orang lebih masih bisa juga berontak. Hampir saja dia lepas dan mau memukul saya lagi. Dalam hati, "kenapa juga nih anak semangat banget mau mukul saya ..? Kenal enggak, punya salah juga enggak ... atau, mungkin si jin yang di dalemnya itu masih dendam kali yah sama saya. Karena sering teman-temannya saya usir-usirin."

AlhamduliLlah, akhirnya setelah dibantu teman-teman, peserta Sanlat itu berhasil disembuhkan. Setelah di-"ruqyah" dan di-"tomplok" belasan orang, anak itu sadar dengan wajah innocent. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal kita sudah lelah sekali menyadarkan dia.

Begitulah, setiap tahun ada saja urusan saya dengan kawan-kawannya "om jin dan jun" itu. Insya Allah ditulisan yang akan datang, saya akan ceritakan pengalaman saya berurusan dengan jin dan orang2 kesurupan di tahun 2009 ini.

Sebelum saya tutup tulisan ini, saya hanya ingin berpesan kepada teman-teman, kalau berurusan dengan hal seperti ini, kuncinya satu (eh dua deh). Pertama, tenang. Yakin bahwa kita lebih mulia dari makhluk manapun. Yang kedua, yakin bahwa ayat-ayat Al-Qur'an dan do'a yang kita baca pasti akan membawa pengaruh bagi "mereka"

WaLlahu a'lam.

Salam.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Mudahnya Menerjemahkan Al-Qur'an



Ide ini sebenarnya telah muncul lebih dari 15 tahun yang lalu. Ketika saya masih duduk di bangku sekolah Tsanawiyyah. Awalnya, saya tertarik sekali saat membaca kitab Fathurrahman. Kitab ini adalah kitab indeks al-Qur'an. Sehingga kalau kita ingin mencari ayat tertentu dalam al-Qur'an cukup kita cari saja melalui akar katanya. Misalnya kita ingin tahu ayat "alhamduliLlahi robbil 'alamin" itu ada di ayat berapa. Maka kita cari lah akar kata dari "alhamdu" yaitu "hamida". Ketemulah ayat itu di al-Qur'an di surat apa dan ayat berapa.

Saat membuka-buka kitab Fathurrahman itu, saya menemukan fakta, bahwa ternyata banyak sekali ayat-ayat al-Qur'an yang berasal dari akar kata yang sama. Sangat banyaknya sehingga kesimpulan kasar saya adalah, kalau saja kita bisa menghafal 300 kata saja dalam al-Qur'an bersama dengan cara perubahan katanya, maka kita bisa menerjemahkan hampir 75% dari ayat-ayat Al-Qur'an.

Yang dimaksud dengan perubahan kata itu contohnya, kalau di bahasa Indonesia, seperti berubahnya kata aktif "memakan" jadi kata pasif "dimakan". Akarnya kan tetap sama tuh .. yaitu kata "makan".

Dari ide itulah, dulu, saya sempat mengumpulkan kata-kata terbanyak yang muncul dalam al-Qur'an dengan bantuan kitab Fathurrahman. Tapi, seiring dengan kesibukan belajar waktu Tsanawiyyah (dulu saya sempat sekolah dua kali sehari, Tsanawiyyah paginya dan SMP Negeri kalau siang) akhirnya catatan itu tidak terselesaikan.

Setelah sekian belas tahun, beberapa bulan belakangan ini, keinginan untuk menyelesaikan tulisan itu kembali muncul. Keinginan itu muncul saat menyadari bahwa seringkali kita belajar Islam tidak abjadiyyah (berurut). Tidak dari "alif", kemudian "ba", kemudian "ta" dan seterusnya.

Sehingga seringkali ada saja di antara kita yang fasih berbicara mengenai fiqhud da'wah tapi berantakan saat diminta menjelaskan bagaimana cara tayammum yang benar. Ada pula yang semangat berbicara perbedaan dalam fiqh ibadah tapi bingung saat ditanya mengenai perbedaan Nabi dan Rasul.

Fenomena ini saya kira, berasal dari belajar agama yang tidak abjadiyyah tadi. Belajar agama yang tidak dimulai dari hal-hal yang paling penting dan mendasar. Menurut saya belajar bahasa Arab, setidaknya untuk memahami Al-Qur'an, termasuk hal yang penting dan mendasar itu tadi. Selain tentu saja mengkaji Aqidah, dasar-dasar kayfiyat (tata cara) ibadah, prinsip-prinsip akhlaq dan membaca al-Qur'an yang benar (sesuai tajwid).

Karena itu, sekarang saya sedang bersemangat untuk menyelesaikan tulisan saya mengenai cara mudah menerjemahkan al-Qur'an. Beberapa orang teman juga terus ngipas-ngipasin agar tulisan ini cepat selesai. Untuk itu kalau ada sahabat-sahabat yang punya ide untuk melengkapi tulisan ini saya mohon bantuannya yah .. Mohon doanya juga biar saya tidak males menyelesaikan tulisan ini.

Salam.

Selasa, 06 Oktober 2009

Mensyukuri Hidup


Mungkin tak ada yang paling sulit dalam hidup ini kecuali bersyukur. Syukur. Kata yang ringan diucapkan, tapi berat dilaksanakan. Mencoba tetap tersenyum dalam kegetiran. Mencoba tetap optimis saat terhempas.

Karena itulah Allah berfirman, "wa qoliilun min ibadiya syakuuur .. dan sangat sedikitlah di antara hamba-hambaKu yang mampu untuk bersyukur."

Banyak orang salah kaprah dengan kata syukur. Mereka mengira bahwa syukur itu hanya menerima. Pasrah. Pasif. Padahal, syukur itu sejatinya bergerak. Aktif. Para ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bersyukur itu adalah kita memanfaatkan semua yang diberikan Allah sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi, terkandung makna bekerja disitu. Ada juga makna eksploitasi. Sehingga seseorang yang bersyukur adalah orang yang mampu melihat potensi yang dimilikinya sebagai peluang untuk berbuat.

Seorang yang bersyukur akan melihat sampah yang menumpuk sebagai peluang usaha. Ia melihat anggota tubuhnya sebagai potensi. Melihat gedung yang tak terpakai, tanah yang tak terurus, alat-alat yang tak termanfaatkan sebagai aset yang bisa berguna.

Tak ada yang sia-sia bagi insan yang bersyukur. Ia akan senantiasa berdzikir, "Robbana maa kholaqta hadza baathila ... Tuhan kami, tidaklah Kau ciptakan ini sia-sia ..."

Karena itu, akan sibuk sekali setiap hamba yang bersyukur. Ia menyadari bahwa jatah hidup yang tersisa ini sesuatu yang sangat berharga. Tak boleh terlewat satu detikpun kecuali sebagai manfaat. Manfaat untuk dirinya juga untuk orang lain. Manfaat untuk membangun akhiratnya, juga menegakkan dunianya.

Saudaraku, betapa banyak potensi yang terbengkalai di sekitar kita. Mari kita manfaatkan semaksimal mungkin. Berusaha menjadi insan yang bersyukur. Berusaha terus menatap setiap peluang ...